Bukan Seberapa Pantaskah Kamu


"Riana itu ga pantes buat loe, Bri. Loe mustinya tau itu." Roni menepuk bahuku, lalu meneruskan memainkan senar gitarnya. 

Brian pura-pura sibuk dengan tuts keyboardnya. Dipasangnya lagi headset sekaligus mini-mikrofon yang dikenakannya. Sambil jemarinya terus memainkan nada, pikirannya melayang, terngiang akan ucapan Roni baru saja. 

Brian sadar sepenuhnya, Riana sudah banyak menghindarinya, yang dicurigai mungkin juga berbohong padanya. Riana pintar dan cerdas, namun belakangan, gadis berkerudung itu banyak berubah. Sahabat baik yang disukainya itu, menjadi pemarah dan seringkali menyalahkan keadaan Brian yang super sibuk.

:::: Beberapa Hari Sebelumnya ::::

(Brian) "Hey Ana, kamu bisa nunggu aku jemput kamu sejam lagi? Aku masih latihan bareng anak-anak nih."
(Riana) "Jangan, gak usah yah Bri. Aku masih di rumah Arin. Mungkin sampai larut malam."

----

(Brian) "Kalau kamu ada waktu, aku pengen ajak kamu nonton aksi panggung di klub besok. Gimana, Ana?"
(Riana) "Eh? Beneran? Pengen banget, tapi aku udah ada janji nonton bioskop bareng Lana dan Ratih. Jadi maaf yah?"

---

:::: Hari ini ::::

Brian meneruskan memainkan tuts keyboard. Iramanya melambat, bahkan cenderung ngelantur. Tapi headset itu memastikan bahwa tidak ada yang menyadari selain Brian sendiri.

Ana, sebenarnya ada apa yah? Kalau kamu lagi bareng aku, kamu lebih sering marah-marah. Kalau lagi aku ajak kemana-mana, kamu selalu menolak dengan sangat ramah. Perasaanku benar-benar tidak enak kenapa kamu seperti menutupi sesuatu.

:::: Beberapa hari setelahnya :::

(Brian) "Arin, kalian kemarin itu hangout bareng kan? ngapain aja? Sampai larut malam yah katanya."
(Arin) "Hm? Yang kemarin itu? Wah, emang sih Ana di malam sebelumnya bilang mau ajak aku main monopoli, tapi terus besok paginya Ana nelpon aku kalau dia ngebatalin. Dan pas malemnya aku telpon, dia ada dirumah lagi main monopoli sama adiknya tuh."

---

(Brian) "Lana, aku iri nih kamu pasti udah nonton film itu bareng Ana dan Ratih kan kemarin di bioskop?"
(Lana) "Eh? Enggak ikut si Ana. Entah apa alasannya, tapi sepulang nonton, karena khawatir, aku dan Ratih langsung nyamper dia ke rumah. Ternyata lagi asik baca novel di rumah."

:::: Epilog ::::

Brian terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mungkin Ana memang menyembunyikan sesuatu, tanpa menjawab yang sesungguhnya. Tapi Ana bisa dipastikan, tidak melakukan hal-hal lain selain hanya mengurung diri di rumahnya sendiri. Bahkan Ana tidak mengatakan apapun pada teman-teman karibnya. Ana, bukan kamu yang harus ditanyakan seberapa pantas untukku, tapi seberapa pantas aku untuk bisa menemukan siapa kamu.

9 comments:

  1. wow this really good blog content
    visit : http://uii.ac.id

    ReplyDelete
  2. mencari kata-kata inspirasi kakak, lagi banyak menggangur. nice experience, gud luck for tuday.

    ReplyDelete
  3. @kolumnis : kok menganggur? ^___^ pasti menyenangkan

    ReplyDelete
  4. Jadi ikut penasaran, apa yg sedang terjadi pada Riana ya? Kok jadi senang mengurung diri?

    ReplyDelete
  5. bukan kamu yang harus ditanyakan seberapa pantas untukku, tapi seberapa pantas aku untuk bisa menemukan siapa kamu. sip banget nich....

    ReplyDelete
  6. kunjunagn sob ..
    salam sukses selalu ..:)

    ReplyDelete
  7. sayarat dengan makna yang terkandung didalamnya

    ReplyDelete

 
Copyright © 2012 Main Kata : Blog Menulis dari Hati ~ Template By : Jasriman Sukri

Kamu bisa menulis deskripsi disini